PERAN HISTOPATOLOGI DAN IMUNOHISTOKIMIA DALAM MENEGAKKAN DIAGNOSIS DAN MENENTUKAN PROGNOSIS PADA MIKOSIS FUNGOIDES TIPE HIPOPIGMENTASI: SEBUAH LAPORAN KASUS PADA ANAK
Mikosis fungoides (MF) adalah bentuk limfoma sel-T kulit, terutama ditemukan pada usia di atas dekade
kelima. Manifestasi klinis MF sangat bervariasi, tersering adalah berupa makula eritematosa disertai skuama. Kejadian MF pada anak sangat jarang, berkisar 0.01-0.03% pertahun, dengan bentuk tersering bercak hipopigmentasi. MF hipopigmentasi dapat menyerupai berbagai penyakit, dari morbus Hansen hingga
hipopigmentasi pasca inflamasi. Sehingga perlu dilakukan upaya diagnostik yang maksimal pada lesi hipopigmentasi yang tidak khas.
Seorang anak perempuan berusia 5 tahun, dengan bercak merah 4 bulan sebelumnya, berawal dari perut
meluas ke ekstremitas dan punggung. Bercak merah memudar menjadi putih. Bercak tidak nyeri, tidak gatal, maupun baal. Pada pemeriksaan fisik ditemukan plak eritematosa multipel, sebagian dengan hipopigmentasi di tengahnya. Uji sensibilitas sulit dilakukan. Diagnosis banding awal adalah morbus Hansen, eritema anulare sentrifugum dan granuloma anulare. Pemeriksaan histopatologi dari lesi hipopigmentasi menunjukkan sel atipik disertai epidermotrofisme. Pemeriksaan imunohistokimiawi memperlihatkan CD20-, CD3+, CD4+, CD8+, dan CD56+. Pemeriksaan hibridisasi in-situ EBER menunjukkan hasil negatif. Pasien kemudian didiagnosis sebagai MF tipe hipopigmentasi.
MF tipe hipopigmentasi merupakan varian atipikal yang lebih banyak terjadi pada usia muda dengan
prognosis lebih baik. Pemeriksaan EBER positif menandakan adanya keterlibatan organ dalam dan buruknya
prognosis. Histopatologi, imunohistokimia, dan hibridisasi in-situ EBER perlu untuk menegakkan diagnosis dan menentukan prognosis MF tipe hipopigmentasi.
Kata kunci: mikosis fungoides anak imunohistokimia EBER
