PERDOSKI

PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS KULIT DAN KELAMIN INDONESIA

Indonesian Society of Dermatology And Venereology (INSDV)

PSORIASIS ERITRODERMA PADA PASIEN DENGAN SINDROM CUSHING IATROGENIK

Share:

Psoriasis eritroderma adalah bentuk psoriasis yang sangat agresif dan terjadi pada sekitar 3% kasus psoriasis. Sifat kambuhan psoriasis sering membuat pasien berobat sendiri, salah satunya menggunakan kortikosteroid sistemik yang dapat menyebabkan sindrom Cushing iatrogenik. Berikut dilaporkan pasien laki-laki berusia 23 tahun dengan keluhan bercak merah dengan sisik putih tebal hampir di seluruh tubuhnya. Pasien didiagnosis sebagai psoriasis vulgaris 4 tahun yang lalu dan mengonsumsi metilprednisolon selama 8 bulan. Pemeriksaan fisik menunjukkan moon face, buffalo hump, central adiposity, atrofi otot ekstremitas bawah, dan striae violaceous pada badan. Pemeriksaan dermatologis menunjukkan lebih dari 90% total luas permukaan tubuh terdapat plak eritematosa dengan skuama putih tebal di atasnya. Tanda Auspitz dan fenomena tetesan lilin positif. Gambaran histopatologi sesuai dengan psoriasis vulgaris. Pasien diterapi dengan metotreksat, asam folat, loratadin, dan minyak zaitun topikal. Pasien dikonsultasikan ke departemen ilmu penyakit dalam, didiagnosis sebagai sindrom Cushing iatrogenik dan diterapi dengan prednison dengan dosis yang diturunkan secara bertahap. Pasien juga didiagnosis pneumonia dan fraktur patologis vertebra lumbar II dan III akibat osteoporosis yang diinduksi kortikosteroid oleh departemen pulmonologi dan ortopedi. Setelah pengobatan selama 6 minggu, psoriasis membaik. Hal tersebut karena efek antiproliferatif dan imunomodulator metotreksat dan penurunan dosis prednison bertahap.


Kata kunci: psoriasis vulgaris sindroma Cushing iatrogenik