PERDOSKI

PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS KULIT DAN KELAMIN INDONESIA

Indonesian Society of Dermatology And Venereology (INSDV)

25 Feb 2019 | 10:00 WIB

Fakta Seputar Face Oil yang Kini Sering Digunakan Untuk Perawatan Kulit Wajah

Fakta Seputar Face Oil yang Kini Sering Digunakan Untuk Perawatan Kulit Wajah
Share:

Belakangan berbagai brand perawatan kulit ramai-ramai meluncurkan produk face oil yang diklaim berasal dari minyak alami seperti argan oil, jojoba, minyak kelapa, hingga rosehip oil. Face oil digadang-gadang mampu merawat kulit wajah hingga mulus, mengembalikan keremajaan kulit, hingga meminimalkan pemunculan keriput. Benarkah klaim tersebut? Sebelum Anda memutuskan untuk menggunakannya, Anda bisa membaca fakta tentang face oil berikut ini.

Apa itu face oil?
 

Face oil kebanyakan berasal dari minyak nabati, yang sering juga disebut sebagai carrier oil (minyak pembawa atau minyak pelarut). Istilah minyak nabati merupakan istilah yang umum digunakan dalam perawatan kulit alami, sedangkan istilah minyak pembawa (carrier oil) umumnya digunakan dalam praktik aromaterapi. Tidak semua minyak pembawa adalah minyak nabati, misalnya minyak emu (berasal dari burung emu) dan minyak ikan (dari ikan laut) juga termasuk minyak pembawa.

Minyak nabati berbeda dengan minyak atsiri (essential oil).  Minyak nabati diambil dari  bagian berlemak tanaman, biasanya dari biji, kacang-kacangan, kernel. Umumnya minyak nabati didapat melalui proses coldpressed, dan masih memiliki kandungan berbagai vitamin yang larut dalam lemak, mineral, asam amino, dan asam lemak essensial yang bermanfaat untuk kesehatan kulit. Minyak atsiri umumnya didapat melalui proses distilasi (penyulingan) dari bunga, daun, kulit kayu, akar dan bagian aromatik lainnya dari tanaman asal. Minyak atsiri dapat menguap dan memiliki aroma yang kuat, sedangkan minyak nabati tidak menguap atau aromanya tidak sekuat minyak atsiri. Minyak nabati lebih cepat berubah bau (tengik) seiring waktu, sedangkan minyak atsiri memiliki waktu simpan yang lebih panjang, kehilangan manfaat terapeutiknya karena "teroksidasi" seiring waktu, tetapi tidak menjadi tengik.

BACA JUGA: Manfaat AHA dan BHA untuk Kulit

Setiap jenis minyak nabati memiliki kombinasi kandungan, sifat dan karakteristik terapeutik yang berbeda. Bergantung pada jenis & kondisi kulit, serta manfaat terapeutik yang kita butuhkan, kita dapat memilih minyak nabati yang sesuai. Seabuckthorn Berry Oil, misalnya, memiliki rasio vitamin beta karoten yang tinggi sehingga minyaknya berwarna oranye. Minyak nabati banyak yang secara alami mengandung tokoferol (Vitamin E), yang berfungsi sebagai anti-oksidan yang bermanfaat bagi kulit dan umumnya membantu memperpanjang umur simpan minyak.

Minyak nabati juga berbeda dengan minyak mineral (mineral oil). Minyak mineral adalah produk sampingan dari produksi minyak bumi, bukan berasal dari tanaman dan tidak digunakan dalam praktik aromaterapi. Minyak mineral umum digunakan dalam minyak bayi (baby oil) dan pelembab yang tersedia secara komersial karena merupakan minyak yang murah biaya produksinya. Namun, minyak mineral memiliki kekurangan seperti dapat menyumbat pori-pori, menutup kulit, dan mencegah penyerapan minyak atsiri.

Bagaimana memilih face oil?

Dengan perkembangan dunia saat ini, sebagian minyak nabati yang dijual tidak lagi diproses secara coldpressed, melainkan diproses menggunakan panas tinggi, sehingga khasiatnya menurun. Pilihlah minyak nabati yang diproses secara coldpressed, tanpa menggunakan panas. Perhatikan juga adakah sertifikasi organik dari minyak tersebut.  Minyak nabati organik umumnya harganya lebih mahal dari minyak nabati konvensional.

Kekentalan (viscocity) minyak nabati biasanya dikategorikan menjadi "tipis," "sedang" atau "tebal" dan berhubungan dengan penyerapannya. Penyerapan minyak nabati dinilai secara subjektif dari kecepatan minyak nabati menembus kulit, berapa lama kulit masih terasa berminyak setelah aplikasi. Minyak almond, minyak alpukat, minyak castor merupakan contoh minyak yang “tebal” dan diserap perlahan, sehingga cocok untuk digunakan untuk kulit yang sangat kering dan butuh dilembabkan. Sebaliknya minyak biji anggur, minyak argan, minyak rosehip, minyak biji bunga matahari merupakan minyak yang “tipis” dan cepat menyerap, sehingga nyaman untuk kulit yang berminyak. Perhatikan juga apakah minyak nabati tersebut cenderung memicu komedo (comedogenic). Minyak yang cenderung “tipis” seperti minyak argan,  umumnya lebih tidak memicu komedo dibandingkan minyak yang “tebal” seperti minyak kelapa.

Saat ini juga tersedia face oil yang mengandung kombinasi beberapa minyak nabati, ataupun kombinasi minyak nabati dan minyak atsiri untuk meningkatkan manfaat terapeutiknya. Minyak atsiri lavender, kemenyan (frankincense), dan mawar, sering ditemukan dalam produk face oil.

BACA JUGA: Penyebab Jerawat Pada Wanita Berhijab dan Cara Mengatasinya

Tips menyimpan face oil

Berbeda dengan minyak atsiri yang harus dikemas dengan botol kaca gelap, minyak nabati dapat dikemas dalam botol plastik. Sebagian besar minyak nabati dapat disimpan di lemari es, yang akan memperpanjang umur/masa simpan minyak yang mudah rusak misalnya minyak biji borage atau minyak flaxseed.  Beberapa minyak nabati dapat mengeras atau berubah keruh saat disimpan di lemari es dan kembali cair pada suhu kamar, misalnya minyak kelapa. Jika minyak nabati berubah aromanya, mungkin minyak tersebut sudah tengik dan sebaiknya jangan digunakan.

Face oil belum tentu efektif

Amankah face oil? Minyak nabati terutama yang alami, organik, dan terbuat dari bahan alami tunggal, misalnya murni minyak kelapa, atau 100% berasal dari buah olive, umumnya aman, dan kalaupun ada efek samping biasanya tidak akan mengkhawatirkan.

Namun efektifkah face oil dalam merawat kulit? Buat sebagian orang mungkin ya, tapi untuk sebagian lain belum tentu. Misalnya saja minyak kelapa atau olive oil untuk mereka pemilik kulit kering bisa jadi pelembap efektif yang terserap cukup baik ke dalam kulit hingga kulit lembab. Sayangnya kedua minyak ini bersifat komedogenik, yang berarti dapat menyebabkan pori-pori tersumbat, munculnya komedo hingga jerawat jika digunakan pada kulit wajah yang berminyak dan cenderung berjerawat. Jika kulit Anda sedang meradang, iritasi, atau berjerawat, mengalami eksim, kering kronis, atau kondisi kulit lain, yang paling baik adalah berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter spesialis kulit, produk apa yang sebaiknya diaplikasikan.

BACA JUGA: Stop 12 Kebiasaan yang Tanpa Sadar Anda Lakukan dan Merusak Rambut

Face oil yang dijual secara komersial bisa jadi diproses dengan panas tinggi atau kimiawi dan terdapat tambahan kandungan lain agar efektif. Tapi sekali lagi, kulit setiap orang itu berbeda-beda, sehingga hasil dari pengaplikasian face oil tentu juga berbeda. Yang juga patut diwaspadai adalah penggunaan yang tidak tepat dan berlebihan. Apabila tidak yakin, atau bingung memilih, sebaiknya berdiskusi terlebih dahulu dengan dokter spesialis kulit untuk bersama memilih face oil yang sesuai dengan jenis, kondisi, dan kebutuhan kulit.