PERDOSKI

PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS KULIT DAN KELAMIN INDONESIA

Indonesian Society of Dermatology And Venereology (INSDV)

4 Jun 2018 | 10:00 WIB

Pentingnya Skrining HIV dan Sifilis Untuk Deteksi Dini IMS Pada Ibu Hamil

Pentingnya Skrining HIV dan Sifilis Untuk Deteksi Dini IMS Pada Ibu Hamil

Pentingnya Skrining HIV dan Sifilis Untuk Deteksi Dini IMS Pada Ibu Hamil

Share:

Mengingat Infeksi Menular Seksual (IMS) pada perempuan seringkali terjadi tanpa gejala, setiap perempuan harus meningkatkan kewaspadaan terhadap organ reproduksinya.

Meski IMS menakutkan, nyatanya angka penyebaran IMS setiap tahunnya tak kunjung berkurang, bahkan cenderung meningkat. Pada ibu hamil, semester berapapun infeksi dapat terjadi, begitu pula infeksi yang ditularkan melalui kontak seksual, misalnya gonore, sifilis dan HIV.

IMS pada Ibu Hamil Merugikan Bayi

Dampak IMS pada kehamilan dipengaruhi beberapa hal seperti faktor penyebab (virus/bakteri), berapa lama tubuh terinfeksi, dan usia kehamilan saat terinfeksi. Beberapa akibat yang dapat dialami bayi dari ibu yang terinfeksi IMS antara lain:

  • Kematian janin, dapat terjadi keguguran spontan atau lahir mati
  • Berat badan lahir rendah
  • Kelahiran prematur
  • Janin tidak berkembang optimal dalam kandungan
  • Infeksi kongenital
  • Gangguan organ dalam tubuh dan fisik
  • Cacat janin misalnya kebutaan dan keterbelakangan mental

Menurut data, kasus kematian janin dari Ibu hamil yang menderita IMS jauh lebih tinggi daripada kasus kematian janin dari Ibu yang tidak menderita IMS. Oleh karena itu, ibu hamil dihimbau untuk melakukan skrining IMS dan HIV segera saat kehamilan terjadi.

Pentingnya Skrining IMS Bagi Ibu Hamil

Skrining IMS bagi ibu hamil penting dilakukan, terutama bila kehamilan terjadi tanpa direncanakan dan dilakukan dengan tidak aman seperti berikut:

  • Perempuan yang sudah aktif secara seksual sebelum menikah.
  • Kehamilan yang dialami remaja di luar pernikahan.
  • Perempuan yang melakukan monogami serial, yaitu ada ikatan pernikahan dengan satu pasangan pada satu waktu tertentu namun sudah berganti pasangan sah beberapa kali.
  • Perempuan berganti-ganti pasangan seksual.

Pemeriksaan Apa yang Wajib Dilakukan Oleh Ibu Hamil?

1. Sifilis

Penyebab kelainan ini adalah bakteri Treponema palidum. Sifilis terdiri dari beberapa stadium penyakit. Sifilis primer ditandai adanya luka pada kelamin yang bisa saja tidak dirasakan dan

luput dari pengamatan ibu hamil. Luka tidak disertai rasa sakit atau tanpa gejala. Stadium lanjutan yaitu sifilis sekunder ditandai dengan ruam di kulit yg dapat menyerupai penyakit kulit pada umumnya. Ibu yang terinfeksi akan menularkan infeksi tersebut pada bayi yang dikandung.

Antibodi terhadap penyakit ini dapat dideteksi pada pemeriksaan darah ibu pada awal kehamilan sekaligus untuk pemeriksaaan antibodi terhadap HIV.

Pada ibu hamil yang menderita sifilis primer dan sekunder dapat dilakukan skrining VDRL (Veneral Diseases Research Laboratory) dan dievaluasi pada 1, 3, 6 dan 12 bulan setelah pengobatan. Bila selama 2 tahun setelah masa pengobatan hasilnya memuaskan, maka pasien bisa dinyatakan sembuh. Namun pada penderita sifilis tersier, pemeriksaan harus dilakukan seumur hidup. Setiap ibu hamil dengan hasil pemeriksaan TPRapid Sifilis positif diobati dengan Benzatin Pencilin G 2,4 juta IU.

Selain itu, untuk penegakkan diagnosis juga bisa dilakukan tes TPHA dan FTA-ABS (Fluoresence Treponemal Antibody-Absorption), untuk mengetes bakteri Treponema pallidum penyebab sifilis.

Pada bayi, penanganan diupayakan untuk menghilangkan risiko sifilis kongenital, terutama ma risiko kematian dan kecacatan pada bayi.

BACA JUGA: Pengaruh Herpes Genital Terhadap Kualitas Hidup

2. HIV

Virus HIV menyerang tubuh akan menuju ke sel-sel pertahanan tubuh sehingga pertahanan tubuh tersebut menjadi lemah dan muncullah berbagai macam infeksi oportunistik.

Per 2017, menurut Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) jumlah kasus ibu hamil yang tercatat terinfeksi positif HIV sebanyak 3.079. Ironis, bukan? Akibatnya, angka penderita HIV pada balita pun ikut meningkat. 90% penderita HIV usia bayi dan balita ditularkan dari sang ibu. Upaya tes HIV/AIDS bagi ibu hamil telah diatur dalam Undang-undang Kesehatan dan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 21 tahun 2013.

Skrining HIV pada ibu hamil bisa dilakukan melalui serangkaian tes antara lain Voluntary Counseling and Testing (VCT), tes darah dan terapi ARV (antiretroviral). Skrining HIV pada ibu hamil bermanfaat untuk menanggulangi risiko penularan terhadap bayi.

3. Keputihan dan ruam pada area kelamin

Jangan abaikan keputihan atau ruam kulit yang terjadi pada saat ibu sedang hamil. Berbagai infeksi bakteri, jamur dan virus dapat terjadi dan juga menjadi komplikasi pada kehamilan.

Ambillah langkah bijaksana untuk melakukan skrining IMS, terutama sebelum merencanakan kehamilan, atau selambat-lambatnya setelah terjadi kehamilan di trimester awal. Bila terdeteksi sejak dini, risiko penularan ke bayi dapat diminimalisir, dan setiap ibu hamil bisa melahirkan generasi yang sehat.

BACA JUGA: Mengenal Herpes Genital