The English version is not available yet — showing the Indonesian content.
Presentasi laporan kasus dan jumpa pakar ketiga yang bertema “Frustating Disease” menghiasi hari ketiga KONAS XIV PERDOSKI di Grand BallroomTrans Hotel, Bandung. Terdapat sejumlah laporan kasus yang bervariasi dilaporkan oleh dokter spesialis kulit dari seluruh penjuru Indonesia. Rangkaian laporan kasus ini dibuka dengan presentasi kasus pasien penderita amiloidosis. Dikatakan bahwa berbagai pengobatan pada amiloidosis kurang membuahkan hasil dengan tingkat rekurensi tinggi.
Pada kasus pertama, dilakukan tata laksana dengan electroshaving dan didapatkan hasil yang cukup baik tanpa adanya rekurensi. Kasus kedua membahas “pemfigoid bulosa” yang diinduksi oleh obat-obatan hipertensi stadium 1. Dari laporan tersebut dapat disimpulkan bahwa pengobatan dilakukan dengan menghentikan agen pemicu, pemberian kortikosteroid topikal, serta metilprednisolon oral. Kasus selanjutnya mengulas swimmer’s itch yang dapat didiagnosis melalui pemeriksaan hospes definitif. Kasus ini diangkat karena kerap kali penetapan diagnosis hanya didasarkan oleh anamnesis sehingga hasil yang definitif sulit diperoleh. Pemeriksaan hospes definitif pada keong dilakukan untuk mendapatkan diagnosis pasti swimmer’s itch.
Diskusi laporan kasus diselenggarakan secara parallel dengan jumpa para ahli di bidangnya. Pakar pertama, dr Sunardi Radiono, Sp.KK(K) dari Fakultas Kedokteran Gajah Mada, turut mencerdaskan para peserta terkait psoriasis.
Beberapa hal yang diulas diantaranya isu terbaru terkait patogenesis serta hubungan psoriasis dengan penyakit lain, tatalaksana holistik, serta nomenklatur diagnostik psoriasis sesuai dengan Indonesian Case Based Group
(INACBG).
Dr. Dendi Sandiono, Sp.KK(K) dari Universitas Padjajaran menyebutkan bahwa vitiligo kerap membuat frustasi pasien maupun dokter. Beliau menekankan adanya berbagai modalitas terapi, algoritma, dan konsensus dalam penanganan vitiligo di Indonesia. Pada dasarnya untuk mencapai hasil yang maksimal dari pengobatan vitiligo dibutuhkan kerjasama pasien dan dukungan dari keluarga maupun lingkungan sekitar.
Tidak kalah dengan pakar sebelumnya, dr. M. Yulianto Listiawan, Sp.KK(K), FINS-DV, FAADV dari Universitas Airlangga memaparkan materi mengenai eritema nodosum leprosum (ENL) kronik. Reaksi kusta tipe 2 ini seringkali mengalami kekambuhan pada pengobatan penyakit kusta sehingga menimbulkan rasa jenuh bagi pasien. Beliau menekankan perlunya mengeliminasi faktor pencetus reaksi yang diikuti dengan pengurangan dosis kortikosteroid sistemik secara bertahap. Pada kesempatan kali ini penggunaan beberapa obat anti inflamasi non-steroid, obat anti TNF alfa termasuk Thalidomide dan Pentoxyfilin, serta peran anti oksidan pada reaksi ENL dikupas secara tuntas.